Tangerang, 16 April 2026 – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan pentingnya penguatan kolaborasi antara pengusaha UMKM dan usaha besar sebagai strategi menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang semakin dinamis. Langkah ini dinilai krusial agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu tumbuh berkelanjutan di tengah tekanan geopolitik dan perubahan rantai pasok dunia.
Staf Ahli Menteri UMKM Bidang Hukum dan Kebijakan Publik, Reghi Perdana, menyampaikan bahwa pengusaha UMKM tidak boleh lagi berada di pinggiran aktivitas ekonomi nasional. Sebaliknya, UMKM harus menjadi bagian integral dalam rantai nilai industri yang lebih luas agar kontribusinya semakin nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Baca juga: Kemendag Tetapkan HPE Tembaga Untuk Periode Kedua April 2026
“Pengusaha UMKM harus masuk dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar dan terhubung langsung dengan industri utama, sehingga mampu tumbuh berkelanjutan,” ujar Reghi dalam seminar nasional bertema “Reposisi Kolaborasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan Usaha Besar di Tengah Tekanan Global” yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Jakarta, Rabu (15/4).
Dalam paparannya, Reghi menjelaskan bahwa bentuk kolaborasi strategis yang perlu diperkuat meliputi integrasi UMKM dalam rantai pasok industri, penerapan standar kualitas produk secara konsisten, pemanfaatan teknologi digital dan platform e-commerce, serta penguatan kemitraan industrial dengan perusahaan besar.
Menurutnya, kolaborasi bukan hanya soal kerja sama bisnis, tetapi juga tentang membangun sistem yang mampu mendorong UMKM naik kelas melalui akses pasar yang lebih luas, peningkatan produktivitas, hingga pembinaan kualitas produk agar dapat memenuhi standar global.
Pemerintah sendiri, lanjut Reghi, telah menjalankan berbagai program untuk memperkuat ekosistem UMKM agar lebih tangguh, inovatif, dan kompetitif. Program tersebut mencakup fasilitasi standardisasi dan sertifikasi usaha maupun produk, perluasan akses pemasaran melalui kurasi serta business matching, pengembangan holding UMKM, peningkatan literasi digital, hingga inisiasi kolaborasi dengan startup agar produk UMKM dapat menembus pasar internasional.
Reghi juga menyoroti bahwa meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dipicu oleh konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya memengaruhi stabilitas politik, tetapi juga berdampak besar terhadap rantai pasok energi, perdagangan global, serta stabilitas pasar keuangan dunia.
Meski demikian, ia menilai situasi tersebut dapat membuka peluang baru bagi Indonesia untuk memperluas akses pasar melalui kerja sama perdagangan internasional.
Salah satu peluang berasal dari Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani pada 19 Februari 2026. Sejumlah komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, karet, hingga tekstil disebut memiliki prospek besar untuk meningkatkan ekspor ke pasar Amerika Serikat.
Selain itu, Indonesia juga telah menandatangani Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) pada 23 September 2025. Perjanjian ini membuka peluang penghapusan tarif hingga 0 persen bagi sebagian besar produk ekspor nasional.
Baca juga: Kementerian UMKM Perkuat UMKM Terdampak Bencana Lewat Program Makan Bergizi Gratis
“Berbagai perjanjian perdagangan ini menjadi peluang besar bagi Indonesia, termasuk bagi pengusaha UMKM untuk menembus pasar global. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dan daya saing produk,” kata Reghi.
Dengan penguatan kolaborasi, peningkatan standar produk, serta pemanfaatan peluang perdagangan internasional, pemerintah optimistis UMKM Indonesia mampu menjadi pilar penting dalam memperkuat ekonomi nasional sekaligus memperluas daya saing di pasar global.


