Indo Intertex Inatex 2026 Jadi Motor Penguatan Industri Tekstil Nasional

Tangerang, 16 April 2026 – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong penguatan daya saing industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Salah satu langkah strategis yang dilakukan pemerintah adalah melalui penyelenggaraan pameran Indo Intertex – Inatex 2026, yang dinilai menjadi ajang penting untuk memperluas jejaring bisnis, investasi, sekaligus mempercepat adopsi teknologi industri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih tetap terjaga. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,11% pada tahun 2025. Menariknya, sektor industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,30%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir.

Baca juga: Standarisasi Produk Dan Digitalisasi Jadi Fokus UMKM Untuk Hadapi Tekanan Global

“Sektor industri pengolahan bahkan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,30%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir,” ungkap Agus dalam pembukaan pameran Indo Intertex – Inatex 2026 di Jakarta, Rabu (15/4).

Menperin juga menegaskan bahwa sektor industri pengolahan memiliki kontribusi strategis terhadap perekonomian Indonesia. Sektor ini menyumbang 19,07% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, serta mendominasi ekspor hingga 84,89% dari total nilai ekspor nasional. Selain itu, sektor industri pengolahan telah menyerap tenaga kerja sebanyak 20,31 juta orang, memperlihatkan peran besarnya dalam mendukung kesejahteraan masyarakat.

Di tengah tantangan global, kinerja industri manufaktur Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan. Hal tersebut tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Maret 2026 yang berada pada level 51,86, atau masih berada dalam fase ekspansi.

Secara khusus, industri tekstil dan produk tekstil juga mencatat kinerja positif sepanjang tahun 2025. Pertumbuhan industri TPT mencapai 3,55% secara tahunan (year-on-year), dengan nilai ekspor mencapai USD12,08 miliar serta surplus sebesar USD3,45 miliar. Kontribusi terbesar surplus tersebut berasal dari ekspor pakaian jadi.

Dari sisi investasi, sektor industri TPT mampu menarik investasi sebesar Rp20,23 triliun. Industri ini juga menyerap tenaga kerja sebanyak 3,96 juta orang, atau sekitar 19,48% dari total tenaga kerja sektor industri pengolahan.

“Dari kinerja tersebut, industri TPT juga mencerminkan masih terjaganya kepercayaan dari pihak investor untuk membawa investasinya ke Indonesia di tengah ketidakpastian geoekonomi dan geopolitik global saat ini,” jelas Menperin.

Namun demikian, Agus mengakui industri TPT masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kenaikan harga bahan baku global, disrupsi rantai pasok, hingga dinamika permintaan pasar internasional yang tidak stabil. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi kuat antara pemerintah, asosiasi, serta pelaku usaha agar dapat merumuskan langkah antisipatif yang tepat.

Menurut Menperin, Indo Intertex – Inatex 2026 menjadi sangat strategis karena tidak hanya menampilkan inovasi industri, tetapi juga menjadi platform business matching yang mempertemukan pelaku industri nasional dan internasional. Pameran ini dinilai membuka peluang kemitraan sekaligus investasi baru yang mampu memperkuat industri tekstil Indonesia.

“Pameran ini tidak hanya menjadi ajang untuk menampilkan inovasi, tetapi juga sebagai wadah kolaborasi yang dapat menunjukkan optimisme bahwa industri TPT masih menjadi sektor sunrise,” tambahnya.

Ke depan, Kemenperin berkomitmen memperkuat industri TPT melalui kebijakan strategis, termasuk memperluas akses pasar domestik dan ekspor, pemberian fasilitas fiskal dan nonfiskal, serta akselerasi transformasi industri dari hulu hingga hilir. Pemerintah juga mendorong percepatan adopsi teknologi industri 4.0, penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability), serta pengembangan produk bernilai tambah tinggi agar mampu memenuhi standar global.

Baca juga: Kemendag Tetapkan HPE Tembaga Untuk Periode Kedua April 2026

Menperin pun menekankan pentingnya menjaga optimisme di tengah ketidakpastian dunia. Ia meyakini kondisi geopolitik dan ketidakpastian pasar tidak akan berlangsung lama. Pelaku industri yang mampu bertahan akan lebih cepat bangkit ketika situasi kembali normal.

“Pemerintah akan terus hadir sebagai mitra strategis bagi pelaku industri TPT nasional dalam menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan peluang yang ada,” pungkas Agus.

Latest articles

spot_imgspot_img

Related articles

spot_img