Tangerang, 19 Januari 2026 – Di tengah ketidakpastian perekonomian global yang masih membayangi, sektor industri manufaktur nasional tetap menunjukkan daya tahan dan peran strategisnya sebagai motor penggerak ekonomi Indonesia. Berbagai tantangan struktural maupun eksternal dihadapi dengan fondasi industri yang dinilai semakin kuat dan berkelanjutan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa industri manufaktur Indonesia masih mampu tumbuh stabil di atas 5 persen. “Industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5 persen dan berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Kami optimistis kinerja ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sepanjang tahun 2026,” ujar Menperin di Jakarta, Kamis (15/1).
Baca juga: Puncak Festival YouTuber Desa 2026 di Boyolali: Melahirkan Kreator Daerah dari Pelosok Negeri
Pada 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas mencapai 5,51 persen. Target ini menegaskan posisi industri manufaktur sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus pendorong utama penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah dalam negeri.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, hingga 15 Januari 2026 terdapat 1.236 perusahaan industri yang melaporkan tahap pembangunan sepanjang 2025 dan direncanakan mulai berproduksi pada 2026. Kapasitas produksi baru tersebut diperkirakan menyerap 218.892 tenaga kerja, dengan total investasi sektor industri pengolahan nonmigas mencapai Rp551,88 triliun. Dari jumlah tersebut, nilai investasi di luar tanah dan bangunan mencapai Rp444,25 triliun.
“Kapasitas produksi baru yang mulai beroperasi pada 2026 menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan industri, memperkuat struktur manufaktur, serta menciptakan lapangan kerja baru,” jelas Agus Gumiwang.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan industri manufaktur nasional masih ditopang oleh pasar domestik sekitar 80 persen, sementara pasar ekspor berkontribusi sekitar 20 persen. Untuk memperkuat pasar dalam negeri, Kemenperin mendorong kebijakan substitusi impor, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), optimalisasi belanja pemerintah dan BUMN, serta penguatan industri kecil dan menengah (IKM) agar terintegrasi dalam rantai pasok nasional.
Beberapa subsektor diprediksi mencatat pertumbuhan permintaan signifikan di pasar domestik, di antaranya industri logam dasar yang didorong proyek infrastruktur dan hilirisasi, industri makanan dan minuman sebagai kontributor terbesar PDB manufaktur, serta industri kimia, farmasi, dan obat seiring meningkatnya kebutuhan kesehatan dan bahan kimia industri.
Sementara itu, kontribusi ekspor industri pengolahan nonmigas pada 2026 ditargetkan mencapai 74,85 persen dari total ekspor nasional. Target ini akan dicapai melalui diversifikasi pasar, peningkatan daya saing produk, serta penguatan kerja sama dan promosi industri di pasar global.
Baca juga: Insentif PPN DTP Hingga 2026 Jadi Motor Penggerak Sektor Properti Nasional
Untuk menjawab tantangan ke depan, Kemenperin menginisiasi Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) sebagai kerangka kebijakan jangka menengah dan panjang. Strategi ini dirancang selaras dengan arah pembangunan nasional dan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, termasuk swasembada pangan dan energi, penguatan industri strategis, serta penciptaan lapangan kerja.
Dengan penguatan sisi pasokan dan permintaan, serta keberlanjutan kebijakan pemerintah, Kemenperin optimistis industri manufaktur nasional akan tetap tumbuh di atas 5 persen pada 2026 dan terus memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional.


