Tangerang, 10 Juli 2026 – Indonesia menutup partisipasinya sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026 dengan mencatat berbagai capaian strategis yang memperkuat posisi industri nasional di kawasan Eurasia. Selama empat hari penyelenggaraan pameran industri internasional tersebut, Indonesia berhasil mengamankan 13 Memorandum of Understanding (MoU), memperluas peluang investasi, serta membuka akses pasar baru bagi produk manufaktur nasional.
Keikutsertaan Indonesia dalam ajang yang berlangsung di Yekaterinburg, Federasi Rusia, dimanfaatkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk memperkuat diplomasi industri melalui serangkaian agenda bilateral meeting, business forum, business talk, dan business matching. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mendorong daya saing industri manufaktur Indonesia di pasar global.
Baca juga: FOMBEX 2026 Resmi Dibuka Hadirkan Diskon Hingga 90 Persen dan USG Gratis
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa status Indonesia sebagai Official Partner Country memberikan dampak positif terhadap peningkatan kepercayaan mitra internasional terhadap industri nasional.
“Partisipasi Indonesia sebagai Partner Country pada INNOPROM 2026 telah memperkuat posisi industri nasional di pasar Eurasia. Hal ini terlihat dari tingginya antusias pelaku industri dari pasar Eurasia yang menginginkan kerja sama dengan industri nasional dan bahkan telah melakukan penandatanganan MoU sepanjang kehadiran kita di Rusia,” ujar Agus Gumiwang Kartasasmita dalam rangkaian kegiatan INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Kamis (9/7).
Delapan Pertemuan Bilateral Hasilkan Kerja Sama Strategis.
Selama penyelenggaraan INNOPROM 2026, Kementerian Perindustrian menggelar delapan pertemuan bilateral dengan pemerintah Armenia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Azerbaijan, Tajikistan, serta Pemerintah Wilayah Chelyabinsk, Kirov, dan Sverdlovsk di Federasi Rusia.
Pertemuan tersebut menghasilkan berbagai komitmen untuk memperkuat kerja sama di bidang industri, perdagangan, investasi, hilirisasi, pengembangan kawasan industri, penguatan rantai pasok, alih teknologi, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia industri.
Dari seluruh rangkaian pertemuan tersebut, Indonesia berhasil menandatangani 13 MoU yang melibatkan pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha kedua negara.
Kesepakatan tersebut mencakup kerja sama antara Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dengan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia, pemerintah Kazakhstan, Kyrgyzstan, serta pemerintah wilayah Chelyabinsk, Kirov, dan Sverdlovsk.
Selain itu, kerja sama business-to-business (B2B) juga berhasil diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO), PT PCM Kabel Indonesia, PT Athira Maritim Indonesia, dan Perkumpulan Industri Komponen Kapal Indonesia (PIKKI) dengan United Industrial Corporation AK Bars.
Kerja sama lainnya melibatkan PT Minang Jordanindo dengan CHETRA LLC, serta Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia dengan Association of Clusters, Technology Parks and Special Economic Zones of the Russian Federation (ACTPRF).
Dorong Investasi, Alih Teknologi, dan Penguatan Industri Manufaktur
Ke-13 MoU tersebut menjadi fondasi pengembangan kerja sama di berbagai sektor strategis, mulai dari industri manufaktur, rekayasa mesin, alat berat, otomotif, metalurgi, industri kimia, industri halal, pengolahan mineral, hingga pengembangan kawasan industri.
Kesepakatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat investasi, mempercepat alih teknologi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia industri, serta memperluas perdagangan antara Indonesia dan negara-negara di kawasan Eurasia.
Selain pertemuan bilateral, Kementerian Perindustrian juga sukses menyelenggarakan delapan sesi business forum dan business talk yang dihadiri pelaku industri, investor potensial, serta pemangku kepentingan dari berbagai negara.
Forum tersebut membahas berbagai isu strategis seperti manufaktur maju, industri semikonduktor, telematika, industri maritim, hilirisasi sumber daya alam, industri sawit berkelanjutan, hingga penguatan rantai nilai industri antara kawasan Eurasia dan ASEAN.
Minat Investor terhadap Industri Indonesia Terus Meningkat
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII), Tri Supondy, menilai hasil yang dicapai Indonesia selama INNOPROM 2026 mencerminkan semakin tingginya kepercayaan mitra internasional terhadap industri nasional.
“Capaian yang diraih Indonesia selama INNOPROM 2026 menunjukkan bahwa industri nasional semakin dipercaya. Berbagai kerja sama yang terbangun melalui ajang ini diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang investasi, perdagangan, dan kolaborasi industri yang memberikan nilai tambah bagi penguatan daya saing manufaktur Indonesia,” kata Tri Supondy.
Apresiasi juga disampaikan Direktur Program Bisnis Formika Event, Anton Atrashkin. Ia menilai partisipasi Indonesia sebagai Official Partner Country menjadi salah satu daya tarik utama dalam penyelenggaraan INNOPROM 2026.
Menurut Anton, untuk pertama kalinya pelaku usaha Indonesia hadir di Rusia dalam skala yang sangat besar dengan menghadirkan paviliun nasional serta rangkaian kegiatan bisnis yang mendapat perhatian luas dari komunitas industri internasional.
Baca juga: ITSM Jember Dorong 88 Mahasiswa FEB Ikuti Sertifikasi BNSP Skema Digital Marketing Bersama LSP GeTI
Perkuat Posisi Indonesia Menuju Indonesia Emas 2045
Keberhasilan Indonesia pada INNOPROM 2026 menegaskan bahwa diplomasi industri mampu menghasilkan kerja sama nyata yang berdampak pada peningkatan investasi, perluasan pasar ekspor, penguatan rantai pasok global, serta pengembangan industri bernilai tambah.
Pemerintah berharap berbagai kesepakatan yang telah dicapai dapat segera ditindaklanjuti menjadi proyek konkret yang mendorong pertumbuhan sektor manufaktur nasional, memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dengan negara-negara Eurasia, serta mendukung transformasi industri menuju visi Indonesia Emas 2045.


