Tangerang, 03 September 2025 – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM) alat angkut melalui strategi penguatan rantai pasok industri otomotif nasional, khususnya dalam pemenuhan bahan baku logam. Upaya ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan material yang sesuai standar industri, kompetitif dari sisi harga, dan berkelanjutan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa langkah strategis ini diharapkan mampu menjadikan IKM lebih produktif, efisien, serta siap berintegrasi dalam jaringan industri otomotif nasional maupun global. Salah satu realisasi nyata adalah penguatan Material Center di UPTD Pengembangan Industri Logam (PILOG) Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Baca juga: Kemendag Terbuka Evaluasi Kebijakan Impor Permendag 2025
Fasilitas ini menjadi pusat layanan penyediaan bahan baku logam yang tidak hanya memastikan kualitas material, tetapi juga memberikan akses yang lebih mudah dengan harga bersaing bagi pelaku IKM. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menyebut keberadaan Material Center sebagai langkah penting untuk menjaga kesinambungan ekosistem industri otomotif dalam negeri.
“Dengan fasilitas ini, IKM dapat lebih mudah memperoleh bahan baku berkualitas dan kompetitif, sehingga mampu meningkatkan daya saing,” ujar Reni.
Kinerja ekspor otomotif Indonesia semakin menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), ekspor sepeda motor CBU dan part by part pada Juli 2025 mencatat rekor tertinggi dengan total 50.042 unit CBU, 678.227 unit CKD, serta lebih dari 12 juta unit part by part. Secara akumulatif, ekspor kendaraan roda dua Januari–Juli 2025 mencapai lebih dari 5,1 juta unit.
Capaian tersebut membuktikan tingginya minat pasar global terhadap produk otomotif Indonesia, termasuk komponen yang dihasilkan IKM. Untuk mendukung perkembangan itu, Kemenperin menekankan pentingnya transformasi IKM agar mampu menyesuaikan dengan tren kendaraan listrik dan modern manufacturing berbasis quality, cost, and delivery (QCD).
Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Dini Hanggandari, menambahkan bahwa tindak lanjut konkret sudah dilakukan melalui kerja sama dengan pemasok nasional, seperti PT Hanwa Steel Service Indonesia dan PT Tatalogam Lestari. Bahkan, pengiriman perdana sebanyak 8 ton material logam telah dilakukan pada 20 Agustus 2025.
Baca juga: Menperin Dorong Industri Bali Lewat Program Kredit Padat Karya
Ke depan, sistem pengelolaan bahan baku akan diperkuat dengan aplikasi inventory dan delivery berbasis GPS Tracking. Teknologi ini memungkinkan pemantauan distribusi material secara real time, meningkatkan transparansi, sekaligus mengurangi biaya logistik.
“Langkah ini diharapkan tidak hanya membantu keberlangsungan IKM, tetapi juga menciptakan multiplier effect berupa peningkatan lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat. Jika berhasil, model ini akan direplikasi ke sentra IKM lain di Indonesia,” tutup Dini.


