Tangerang, 15 April 2026 – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu pelaku industri nasional, termasuk sektor industri kecil dan menengah (IKM), untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat ketahanan industri di tengah dinamika global. Langkah ini dilakukan melalui penguatan layanan teknis, pendampingan implementasi teknologi tepat guna, serta fasilitasi standardisasi dan peningkatan kapasitas produksi di berbagai daerah.
Salah satu upaya konkret diwujudkan melalui penerapan teknologi tungku Beehive oleh Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Manado kepada pelaku IKM arang tempurung kelapa di Desa Rumengkor, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Teknologi ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mendorong hilirisasi komoditas berbasis sumber daya lokal yang memiliki nilai tambah tinggi.
Baca juga: Kemendag Dan Buyer Tiongkok Bahas Solusi Kandungan Aluminium Sarang Burung Walet
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi tepat guna merupakan kunci menjaga keberlanjutan industri nasional, terutama di tengah tantangan global yang terus berubah.
“Di tengah dinamika yang membutuhkan kecepatan produksi, industri dalam negeri perlu meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal. Penggunaan teknologi seperti tungku Beehive ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga lebih hemat energi dan ramah lingkungan,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (14/4).
Menperin juga menekankan bahwa transformasi teknologi di sektor IKM menjadi bagian penting dalam memperkuat struktur industri nasional sekaligus mendorong daya saing produk hilirisasi.
“Pemanfaatan teknologi yang tepat akan mendorong peningkatan kualitas produk, memperluas akses pasar, serta memperkuat daya saing industri nasional, termasuk industri berbasis komoditas kelapa yang memiliki potensi besar di pasar global,” tambahnya.
Teknologi tungku Beehive yang diterapkan BSPJI Manado merupakan metode karbonisasi modern yang mampu menghasilkan proses pembakaran lebih stabil dan efisien. Tungku ini memiliki kapasitas bahan baku sekitar 4 ton tempurung kelapa per batch dan mampu menghasilkan rendemen sebesar 28–30 persen, dengan kadar air rendah sekitar 5 persen. Efisiensi tersebut jauh lebih unggul dibanding metode konvensional yang cenderung boros energi serta menghasilkan kualitas produk yang tidak seragam.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Emmy Suryandari menyampaikan bahwa transformasi layanan industri saat ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan standar, tetapi juga menitikberatkan pada keberlanjutan.
“Transformasi layanan ini menjadi strategi untuk membangun ekosistem industri yang lebih terstandar, efisien dalam penggunaan energi, berdaya saing, dan berorientasi ekspor,” jelas Emmy.
Sementara itu, Kepala BSPJI Manado Soni Pitriajaya berharap teknologi tungku Beehive dapat menjadi standar baru bagi pelaku IKM arang tempurung kelapa. Menurutnya, inovasi ini akan membantu industri meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menekan biaya energi.
“Kami berharap teknologi ini dapat menjadi standar baru bagi IKM arang tempurung kelapa. Dengan proses yang lebih efisien, pelaku industri tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu menghemat penggunaan energi dan meningkatkan kualitas produk agar kompetitif di pasar global,” ujarnya.
Baca juga: Kementerian UMKM Perkuat UMKM Terdampak Bencana Lewat Program Makan Bergizi Gratis
Sulawesi Utara sebagai salah satu daerah penghasil kelapa utama dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan industri turunan berbasis kelapa. Pemanfaatan tempurung kelapa menjadi arang bernilai ekspor diyakini mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Kemenperin optimistis, melalui program alih teknologi dan pendampingan seperti yang dilakukan BSPJI Manado, para pelaku IKM dapat lebih adaptif menghadapi tantangan global, termasuk fluktuasi energi, serta memperkuat kemandirian industri nasional melalui optimalisasi sumber daya domestik.


