Tangerang, 07 Juli 2025 – Ketika dunia semakin giat mendorong transisi menuju energi terbarukan, realitas keras dari industri energi hijau khususnya di Amerika Serikat menghadirkan pelajaran penting bagi Indonesia. Puluhan perusahaan energi surya dan biomassa di negeri Paman Sam dinyatakan bangkrut pada periode 2023–2025, menandakan bahwa prospek energi hijau tidak selalu sejalan dengan narasi keberlanjutan yang digaungkan.
Fenomena ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi Indonesia, terutama saat pemerintah tengah agresif mendorong ekonomi hijau melalui pembangunan pabrik panel surya, kendaraan listrik, hingga bioenergi. Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan komitmen transisi energi dalam agenda nasional, namun perencanaan harus disertai pemahaman mendalam atas tantangan finansial dan teknis di lapangan.
Baca juga: UMKM Teh Asal Bogor Ini Sukses Ekspor ke 8 Negara, Ini Rahasianya
Ekonomi hijau secara umum mengedepankan pertumbuhan yang selaras dengan pelestarian lingkungan dan pengurangan emisi karbon. Namun dalam praktiknya, implementasi energi hijau menyimpan kompleksitas tersendiri.
Di Amerika Serikat, lebih dari 80 perusahaan energi surya, termasuk SunPower, Lumino Solar, dan Sunnova, bangkrut akibat tekanan suku bunga tinggi, hambatan rantai pasok, dan ketidakpastian regulasi. Tak hanya itu, sektor biomassa juga terdampak. Enviva, produsen pelet kayu terbesar, terpaksa menghentikan operasi akibat krisis bahan baku dan tingginya biaya produksi.
Sementara itu, Indonesia masih bergantung pada satu jenis bahan baku dalam program biodiesel yakni minyak sawit. Ketergantungan ini menimbulkan risiko besar terhadap neraca ekspor dan subsidi negara.
Agar tidak terjebak pada kegagalan serupa, Indonesia perlu memperkuat strategi energi hijau melalui diversifikasi bahan baku, peningkatan riset, dan pengembangan teknologi dalam negeri seperti katalis Merah Putih dan biohidrokarbon untuk bioavtur.
Baca juga: Mahasiswa KKN UIN Walisongo Dampingi UMKM Desa Menur Go Digital
Menurut data terbaru, kapitalisasi pasar ekonomi hijau global mencapai US$7,2 triliun pada kuartal I 2024. Meski ini menunjukkan peluang besar, performa investasi tetap fluktuatif. Morningstar mencatat bahwa investasi dana hijau memang lebih unggul dari dana konvensional, namun tetap menghadapi tantangan dari sisi kebijakan proteksionis dan inflasi.
Pemerintah Indonesia telah memasukkan ekonomi hijau dalam RPJMN 2020–2024 dan kembali memprioritaskannya pada RPJMN 2025–2029. Namun, tantangan di sektor energi harus disikapi dengan serius agar transisi ini tidak hanya menjadi proyek jangka pendek, melainkan transformasi ekonomi berkelanjutan yang kokoh.


