Tangerang, 27 Januari 2026 – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu pengembangan usaha dan peningkatan daya saing industri pati ubi kayu nasional melalui strategi diversifikasi produk, substitusi impor, serta penguatan rantai pasok. Sebagai bentuk nyata perluasan pasar industri dalam negeri, Kemenperin bersama Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) menggelar Business Matching Pati Ubi Kayu pada 22 Januari 2026 di Jakarta.
Kegiatan ini bertujuan mempertemukan industri produsen pati ubi kayu dengan industri pengguna, sehingga kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi secara optimal oleh produk dalam negeri. Langkah ini sejalan dengan Strategi Besar Industri Nasional (SBIN) yang mengacu pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya penguatan backward–forward linkage untuk menciptakan rantai nilai industri yang terintegrasi dan efisien.
Baca juga: Regulasi Baru UMKM 2025 Buka Kesempatan UKM Masuk Industri Mineral Dan Batubara
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa saat ini terdapat 125 perusahaan pati ubi kayu dengan tingkat utilisasi produksi sebesar 43 persen dan penguasaan pasar domestik mencapai 79 persen. “Kami optimistis industri pati ubi kayu nasional dapat ditingkatkan kembali dan mampu melakukan penetrasi pasar yang lebih luas,” ujarnya dalam sambutan pembukaan acara.
Pati ubi kayu merupakan komoditas strategis bernilai tambah tinggi yang dimanfaatkan di berbagai sektor. Di industri pangan, produk ini menjadi bahan baku pemanis, bumbu, makanan ringan, hingga mi instan. Sementara di sektor non pangan, pati ubi kayu digunakan untuk kertas, bahan kimia, serta etanol. Potensi ekspornya pun terus meningkat, dengan nilai ekspor mencapai US$ 18,7 juta pada November 2025, naik 58,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski memiliki prospek cerah, industri ini masih menghadapi tantangan berupa persaingan harga dan kualitas dengan produk impor. Untuk mengatasinya, Kemenperin mendorong sinergi kuat antara produsen dan pengguna melalui penerapan mekanisme Neraca Komoditas (NK), sekaligus mendorong diversifikasi spesifikasi produk sesuai kebutuhan industri hilir.
Business Matching ini melibatkan 17 industri pati ubi kayu dari Provinsi Lampung dan 51 calon buyer dari sektor pangan dan non pangan. Pertemuan bisnis dilakukan secara one-on-one dalam tiga sesi untuk membuka peluang kemitraan jangka panjang.
Baca juga: Produk Furnitur dan Dekorasi Rumah Bersinar Di Toronto Market Week 2026
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika mengapresiasi komitmen para pelaku industri dalam meningkatkan nilai tambah produk lokal. Senada, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan ambisi menjadikan Lampung sebagai pusat diversifikasi industri tapioka nasional berbasis produk turunan bernilai tinggi.
Melalui kolaborasi strategis ini, Kemenperin optimistis industri pati ubi kayu mampu memperkuat kemandirian bahan baku nasional, meningkatkan ekspor, serta menjadi motor pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya lokal.


