Tangerang, 21 April 2026 – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memastikan bahwa ketersediaan pupuk di Indonesia dalam kondisi aman meski dunia tengah menghadapi ketegangan geopolitik yang berdampak pada gangguan rantai pasok global. Bahkan, Indonesia saat ini mencatat surplus pupuk nasional yang membuka peluang ekspor ke sejumlah negara mitra, termasuk India dan Australia.
Pernyataan tersebut disampaikan Wamentan Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, usai menerima audiensi Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, bersama jajaran Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Kemendag Ajak Eksportir Manfaatkan Peluang Pasar Global Di Tengah Krisis Dunia
“Inikan membuktikan bahwa kita punya ketahanan pupuk di tengah situasi perang ini, ketahanan pupuk kita kuat. Saya ingin menyampaikan kepada seluruh petani di Indonesia bahwa pupuk kita cukup dan tidak terpengaruh oleh kondisi perang, bahkan berlebih,” kata Sudaryono.
Menurutnya, ketahanan pupuk Indonesia didukung oleh kapasitas produksi nasional yang besar. Saat ini, total kapasitas produksi PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai 14,65 juta ton per tahun, terdiri dari urea sebesar 9,36 juta ton, NPK 4,52 juta ton, ZA 750 ribu ton, serta ZK 20 ribu ton per tahun.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa prioritas utama tetap pada pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri. Sudaryono menyebut terdapat kelebihan pasokan sekitar 1,5 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk ekspor secara terukur.
“Kita Indonesia akan mengutamakan kebutuhan pupuk dalam negeri. Setelah kita hitung, ada ekses atau kelebihan sekitar 1,5 juta ton yang bisa kita ekspor ke luar negeri,” jelasnya.
Salah satu negara yang menunjukkan minat besar adalah India, yang dinilai selaras karena perbedaan musim tanam sehingga ekspor tidak mengganggu distribusi pupuk untuk petani Indonesia.
Duta Besar India, Sandeep Chakravorty, menyambut baik rencana tersebut dan menyatakan kesiapan India untuk mengimpor pupuk dari Indonesia melalui skema kerja sama antar pemerintah atau Government to Government (G2G).
Sementara itu, Direktur Utama PIHC, Rahmad Pribadi, menegaskan ekspor hanya dilakukan saat kebutuhan nasional benar-benar terpenuhi. Ia menyebut stok pupuk nasional saat ini mencapai 1,2 juta ton, ditambah produksi harian sekitar 25.000 ton urea dan 15.000 ton NPK.
Baca juga: Perlengkapan Haji 2026 Gunakan Produk Lokal Kemenperin Perkuat Peran IKM
Tak hanya India, peluang ekspor juga dibahas bersama Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Bruce Brazier, pada pertemuan sebelumnya, Rabu (15/4/2026). Dalam pertemuan tersebut, Sudaryono menekankan hubungan perdagangan pupuk Indonesia-Australia bersifat resiprokal, karena Indonesia juga mengimpor bahan baku pupuk seperti fosfat termasuk DAP (Diammonium Phosphate) dari Australia.
Dengan kondisi ini, Indonesia dinilai berada pada posisi strategis dalam menjaga stabilitas pasokan pupuk regional sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional dan global.


