Kemendag Dan Buyer Tiongkok Bahas Solusi Kandungan Aluminium Sarang Burung Walet

Tangerang, 14 April 2026 – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyelenggarakan China-Indonesia Bird’s Nest Trade Summit pada Senin (13/4) di Jakarta. Forum ini diikuti oleh 20 pelaku usaha nasional dan menghadirkan asosiasi buyer sarang burung walet dari Tiongkok. Kegiatan tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat akses pasar ekspor sarang burung walet Indonesia ke Tiongkok, sekaligus merespons temuan otoritas Tiongkok terkait kandungan aluminium yang melebihi ambang batas.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menjelaskan bahwa forum ini tidak hanya membahas penguatan komitmen kerja sama perdagangan, tetapi juga mendiskusikan temuan General Administration of Customs China (GACC) mengenai kandungan aluminium di atas batas (>100 ppm) pada produk sarang burung walet Indonesia. Temuan tersebut berdampak pada suspensi sementara terhadap 18 perusahaan eksportir.

Baca juga: Kementerian UMKM Perkuat UMKM Terdampak Bencana Lewat Program Makan Bergizi Gratis

“Selain untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga akses pasar sarang burung walet di Tiongkok, kami mendiskusikan temuan GACC mengenai kandungan aluminium di atas ambang batas pada produk sarang burung walet Indonesia yang berdampak pada suspensi 18 perusahaan,” ujar Puntodewi.

Tiongkok hingga kini masih menjadi tujuan utama ekspor sarang burung walet Indonesia dengan pangsa mencapai 80,15 persen. Namun, pada tahun 2025 nilai ekspor sarang burung walet Indonesia ke Tiongkok tercatat sebesar USD 380,20 juta, turun 11,33 persen dibandingkan tahun 2024. Meski demikian, tren ekspor lima tahun terakhir masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 2,66 persen.

Puntodewi menegaskan pemerintah terus melakukan komunikasi intensif melalui jalur diplomasi perdagangan dan teknis untuk memastikan transparansi serta akuntabilitas metode pengujian yang digunakan otoritas Tiongkok. Pemerintah juga mengapresiasi langkah cepat para eksportir dalam melakukan audit internal dan memperbaiki sistem produksi, terutama dalam memperketat kontrol kualitas.

“Upaya ini merupakan bukti industri sarang burung walet Indonesia sangat serius menjaga reputasinya di pasar internasional. Pemerintah akan terus mengawal proses verifikasi ini agar ke-18 perusahaan dapat segera kembali mengirim ke Tiongkok,” kata Puntodewi.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag Miftah Farid menyampaikan pemerintah mendorong optimalisasi peluang pengisian kekosongan ekspor sekitar 300 ton akibat suspensi sementara sejumlah eksportir. Peluang tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha lain yang telah memenuhi kualifikasi agar pangsa pasar Indonesia tetap terjaga.

Berdasarkan data BPS, pasar ekspor sarang burung walet Indonesia pada 2025 selain Tiongkok meliputi Hong Kong (USD 36,26 juta), Singapura (USD 19,75 juta), Vietnam (USD 15,48 juta), dan Amerika Serikat (USD 12,77 juta). Puntodewi menegaskan Indonesia tetap menjadi pemasok terbesar dunia dengan nilai ekspor mencapai USD 551,56 juta, berkontribusi 58,31 persen terhadap pasar global pada 2025.

Namun, tren penurunan ekspor masih terlihat. Nilai ekspor Januari–Februari 2026 tercatat USD 83,04 juta, turun 10,65 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, ekspor sarang burung walet Indonesia ke dunia mencapai USD 474,35 juta, turun 16,27 persen dibanding 2024.

Baca juga: Transaksi UMKM BISA Ekspor Tembus USD 23,60 Juta Pada Triwulan I 2026

Dari sisi pengawasan, Badan Karantina Indonesia (Barantin) menyampaikan Indonesia tengah melakukan pemetaan risiko, mitigasi regulasi, serta peningkatan pengawasan. Ketua PPSBI Boedi Mranata menilai masalah kadar aluminium dapat diatasi dengan peningkatan teknologi dan pengendalian proses produksi yang lebih konsisten, namun ia menekankan pentingnya penyelarasan mekanisme pengujian antara Indonesia dan Tiongkok agar tidak menimbulkan ketidakpastian.

Dukungan juga datang dari buyer Tiongkok. Presiden Yan TyTy, Li Li, menyatakan kesiapan perusahaannya menjadi penghubung antara konsumen di Tiongkok dan pelaku usaha Indonesia. Sementara Ketua CAWA Ma Zhengjun mengundang pelaku usaha Indonesia menghadiri business connection di Tiongkok pada musim gugur mendatang guna memperkuat peluang kerja sama baru.

Latest articles

spot_imgspot_img

Related articles

spot_img