73 Lulusan Vokasi Kemenperin Langsung Diterima Kerja Di PT Mayora

Tangerang, 10 April 2026 – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional sebagai pilar utama menuju visi besar Indonesia Emas. Salah satu strategi utama yang terus diperkuat adalah penyediaan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten, adaptif, dan siap kerja sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa industri pengolahan non-migas tetap tangguh di tengah tekanan ekonomi global. Menurutnya, sektor manufaktur menjadi tulang punggung perekonomian nasional sehingga perlu dijaga ketahanannya melalui langkah proaktif dan berkelanjutan.

Baca juga: Program Campuspreneur Dorong UMKM Mahasiswa Masuk Ritel Modern

“Kemenperin proaktif melaksanakan berbagai upaya untuk menjaga ketahanan industri manufaktur karena sektor ini merupakan tulang punggung ekonomi nasional,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (10/4).

Ketangguhan industri manufaktur Indonesia terlihat dari capaian Purchasing Manager’s Index (PMI) pada Maret 2026 yang masih berada di zona ekspansi dengan angka 50,1. Selain itu, industri pengolahan juga mencatat pertumbuhan sebesar 5,40 persen, dengan kontribusi mencapai 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan IV tahun 2025.

Untuk mendorong kinerja industri manufaktur yang lebih kuat, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin memegang peran penting dalam menyiapkan infrastruktur dan sarana pendidikan vokasi. Pengembangan SDM industri ini dilakukan melalui 13 unit pendidikan tinggi vokasi milik Kemenperin yang terdiri dari 9 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 7 balai diklat industri.

Pada Rabu (8/4), BPSDMI yang bekerja sama dengan PT Mayora Indah, Tbk mencatat hasil positif dalam penyelenggaraan program unggulan kelas industri. Program ini berhasil meluluskan sebanyak 111 siswa, terdiri dari 26 lulusan SMK-SMTI Pontianak dan 85 lulusan SMK-SMTI Padang.

Kepala BPSDMI Doddy Rahadi menjelaskan bahwa program kelas industri dirancang secara kolaboratif dengan perusahaan melalui kurikulum berbasis industri. Proses pembelajaran juga melibatkan praktisi industri serta diperkuat melalui praktik kerja industri secara langsung.

“Hal ini dilakukan agar lulusan yang dihasilkan benar-benar siap memenuhi kebutuhan dunia kerja,” jelas Doddy.

Dari total lulusan tersebut, sebanyak 73 siswa langsung terserap bekerja di PT Mayora Indah, Tbk. Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan vokasi Kemenperin mampu menghasilkan tenaga kerja yang relevan dengan kebutuhan industri.

HRD Manager Regional PT Mayora Indah, Tbk Soekma Swasono Darmawan mengungkapkan bahwa lulusan sekolah vokasi Kemenperin memiliki nilai tambah karena sudah dibekali kompetensi teknis, pengalaman praktik, dan pemahaman budaya kerja industri.

“Dari 10 lebih total sekolah yang bekerja sama dengan Mayora, hanya sekolah dari Kemenperin yang masuk ke dalam program Mayora Academy dan diterima langsung bekerja dengan waktu probation enam bulan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala PPPVI Wulan Aprilianti Permatasari turut menyampaikan apresiasi kepada Mayora serta SMK-SMTI Pontianak dan Padang atas keberhasilan program tersebut.

Baca juga: Industri Pulp Dan Kertas Serap Jutaan Tenaga Kerja Jadi Pilar Manufaktur Nasional

“Harapan kami, para lulusan kelas industri dapat menggunakan ilmu, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama belajar untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi dunia industri,” ujarnya.

Saat ini, Kemenperin juga membuka pendaftaran siswa dan mahasiswa baru melalui Jalur Penerimaan Vokasi Industri (JARVIS) Bersama 2026, yang dapat diakses hingga Mei 2026 melalui laman resmi jarvis.kemenperin.go.id. Program ini menjadi peluang bagi generasi muda untuk memperoleh pendidikan vokasi industri yang siap mengantarkan mereka langsung ke dunia kerja.

Latest articles

spot_imgspot_img

Related articles

spot_img