Bioaditif Serai Wangi Arutmin Hemat Bahan Bakar dan Kurangi CO2

Tangerang, 03 April 2025 – PT Arutmin Indonesia (Arutmin), unit usaha tambang dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI), telah meluncurkan sebuah inovasi yang tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan tetapi juga memberdayakan masyarakat di sekitar lokasi tambang. Melalui program bioaditif berbasis serai wangi, Arutmin berhasil mengubah lahan marginal di Desa Bukit Mulia, yang terletak di dekat tambang Kintap, Kalimantan Selatan, menjadi sumber daya produktif yang menguntungkan.

Baca juga: E-Commerce Solusi Pemasaran Parsel Lebaran di Tengah Penurunan Penjualan

Pada awalnya, Arutmin menyadari bahwa banyak lahan yang tidak subur atau marginal di wilayah tersebut tidak dimanfaatkan secara optimal. Di Desa Bukit Mulia, petani telah mengembangkan tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus), tetapi nilai ekonomi dari tanaman ini masih rendah dan pengelolaannya terbatas oleh kurangnya pengetahuan. Untuk itu, Arutmin memutuskan untuk memanfaatkan potensi serai wangi sebagai bahan baku bioaditif ramah lingkungan yang dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.

Program ini dimulai pada tahun 2022 melalui Sinergi Masyarakat Tambang Kintap (Terangi Simantap), sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR). “Serai wangi mudah ditanam di tanah yang minim unsur hara, sehingga cocok untuk lahan tidak produktif dan area reklamasi. Selain itu, tanaman ini berfungsi sebagai cover crop yang mencegah erosi dan merehabilitasi lahan kritis,” ujar Dedi Heriyanto, KTT Arutmin Tambang Kintap, dalam keterangannya.

Baca juga: Go Digital ASEAN Dorong 30 Juta UMKM Indonesia Go Digital

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan

Dalam jangka panjang, program ini tidak hanya membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Minyak atsiri yang dihasilkan dari serai wangi dapat digunakan untuk berbagai produk turunan seperti antiseptik alami, sabun, lilin aroma, dan minyak urut. Selain itu, minyak atsiri ini juga digunakan untuk membuat bioaditif yang dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar kendaraan dan mesin industri.

Dedi menjelaskan bahwa dengan penggunaan bioaditif dari minyak atsiri serai wangi, penghematan bahan bakar pada ekskavator dapat mencapai 29,90 liter per jam, sementara penurunan emisi CO2 mencapai 37.506 kg CO2-eq per tahun. Ini merupakan langkah konkret Arutmin dalam mengurangi dampak lingkungan dari operasional tambang dan meningkatkan keberlanjutan bisnis.

Pemberdayaan Masyarakat Lokal

Arutmin tidak hanya fokus pada aspek ekonomi dan lingkungan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat sekitar. Lebih dari 2.400 warga desa telah merasakan manfaat dari program ini, termasuk sekitar 200 orang dari kelompok rentan seperti ibu rumah tangga, lansia, dan masyarakat miskin. Petani lokal mendapatkan bantuan berupa bibit, pupuk, serta pendampingan dalam pengolahan lahan dan pembuatan produk turunan serai wangi.

“Program ini memberikan pelatihan dan alat suling untuk mengolah hasil panen serai wangi menjadi minyak atsiri. Kami juga diberi fasilitas untuk pemasaran produk, yang membuka peluang usaha baru dan menjadi tambahan penghasilan,” ujar Dhani, seorang petani serai wangi sejak 2018.

Serai Wangi: Tanaman Berkelanjutan dan Bernilai Ekonomi Tinggi

Serai wangi yang tumbuh di lahan marginal sekitar tambang Kintap memiliki kualitas tinggi dengan angka rendaman mencapai 1%. Ini berarti, dari 100 kg daun serai wangi, dihasilkan 1 liter minyak atsiri. Tanaman ini juga dapat dipanen berkali-kali selama empat tahun, dengan panen pertama setelah enam bulan dan panen berikutnya setiap tiga bulan.

Hingga kini, lebih dari 5 hektare lahan kritis telah dimanfaatkan untuk kebun serai wangi, yang juga berkontribusi pada peningkatan serapan karbon di wilayah tersebut. Dengan inovasi ini, Arutmin tidak hanya membantu mengatasi permasalahan lahan marginal tetapi juga memberikan dampak positif dalam hal pemberdayaan ekonomi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Komitmen Arutmin untuk Keberlanjutan

Ido Hutabarat, Direktur BUMI sekaligus CEO Arutmin Indonesia, menegaskan bahwa pencapaian ini membuktikan bahwa Arutmin tidak hanya fokus pada produksi batubara untuk ketahanan energi nasional, tetapi juga berkomitmen menjaga lingkungan dan menjalankan tanggung jawab sosial di seluruh wilayah kerjanya. Dengan demikian, Arutmin berhasil menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar tambang Kintap.

Latest articles

spot_imgspot_img

Related articles

spot_img