Lima Strategi Kemenperin Majukan Industri Furnitur

Tangerang, 24 Februari 2025 – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berkomitmen menjalankan kebijakan hilirisasi hasil hutan guna meningkatkan nilai tambah komoditas furnitur. Upaya ini bertujuan untuk memperkuat struktur industri, membuka peluang usaha, menyediakan lapangan kerja, serta meningkatkan nilai ekspor dan devisa negara.

Menurut Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, industri furnitur telah berkontribusi sebesar 1,15 persen terhadap PDB non-migas pada tahun 2024. “Industri furnitur yang merupakan bagian dari sektor industri agro memiliki peran penting dalam perekonomian nasional,” ujarnya dalam Rakernas Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) di Jakarta, Rabu (19/2).

Baca juga: PT Sanken Indonesia Resmi Tutup Pabrik Juni 2025

Pada tahun 2024, industri furnitur mencatat pertumbuhan sebesar 2,07 persen, berkontribusi terhadap peningkatan sektor industri agro yang tumbuh 5,20 persen. Industri agro sendiri menyumbang 51,81 persen terhadap PDB industri pengolahan non-migas.

Di sisi ekspor, nilai pengiriman furnitur Indonesia ke pasar global mencapai USD1,47 miliar dalam periode Januari–November 2024, mengalami kenaikan 0,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Berdasarkan data Expert Market Research, nilai pasar furnitur global tahun ini mencapai USD660 miliar dan diproyeksikan tumbuh 4,9 persen hingga 2034.

Namun, industri furnitur Indonesia menghadapi sejumlah tantangan, seperti kendala logistik akibat kondisi geopolitik, kebijakan keberlanjutan lingkungan di negara tujuan ekspor seperti The European Union Deforestation Regulation (EUDR), serta meningkatnya impor furnitur berbasis logam dan plastik.

Lima Strategi Kemenperin untuk Memajukan Industri Furnitur

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Kemenperin telah menyusun lima strategi utama:

  1. Fasilitasi Ketersediaan Bahan Baku
    Kemenperin berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk memperlancar rantai pasok bahan baku, termasuk melalui Pusat Logistik Bahan Baku Industri Furnitur.

  2. Pengembangan SDM Terampil
    Pendirian Politeknik Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kendal menjadi salah satu langkah strategis untuk mencetak tenaga kerja yang kompeten di bidang produksi dan desain furnitur.

  3. Peningkatan Pasar dan Penguatan Riset
    Kemenperin aktif mendukung partisipasi pelaku industri dalam pameran internasional, seperti Index Plus New Delhi di India, serta mendorong belanja APBN melalui produk ber-TKDN untuk memperluas pasar domestik.

  4. Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Produk
    Program Restrukturisasi Mesin/Peralatan Industri Pengolahan Kayu yang telah berjalan sejak 2022 terus dilanjutkan guna meningkatkan efisiensi produksi.

  5. Iklim Usaha yang Kondusif
    Pemerintah memberikan berbagai insentif perpajakan, preferensi tarif, serta kemudahan prosedur ekspor dan impor guna memperkuat daya saing industri furnitur nasional.

Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, optimistis industri furnitur Indonesia mampu mencapai target ekspor USD6 miliar atau sekitar Rp98 triliun pada 2030. “Kami akan terus mengembangkan pasar, salah satunya melalui pameran IFEX pada Maret 2025,” ungkapnya.

Baca juga: AI dan 5G Percepat Digitalisasi Industri Indonesia

Dengan strategi yang tepat dan dukungan kebijakan yang kuat, industri furnitur Indonesia diharapkan dapat semakin berkembang dan bersaing di pasar global.

Latest articles

spot_imgspot_img

Related articles

spot_img