Tangerang, 20 April 2026 – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan komitmennya dalam memperkuat kontribusi UMKM pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini ditandai dengan peresmian revitalisasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sekaligus peluncuran Program FUSION (Food Supply Integration Opportunity Network) di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM, Riza Damanik, meresmikan revitalisasi dapur SPPG Bandung Cileunyi Cimekar 1 yang berlokasi di Pondok Pesantren Al-Kasyaf, Kamis (16/4). Dalam kesempatan tersebut, Riza memastikan dapur SPPG yang telah direvitalisasi sudah memenuhi standar Badan Gizi Nasional (BGN). Kepatuhan standar ini dibuktikan melalui diterbitkannya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebagai bentuk komitmen terhadap keamanan pangan dan kualitas makanan yang disalurkan melalui program MBG.
Baca juga: Perlengkapan Haji 2026 Gunakan Produk Lokal Kemenperin Perkuat Peran IKM
Riza menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan capaian nyata dari Pilot Project Perluasan Keterlibatan UMKM dalam Ekosistem MBG yang telah diluncurkan pada tahun sebelumnya.
“Sejak dilakukan kick-off pada 15 Mei 2025, ekosistem UMKM dalam SPPG Bandung Cileunyi Cimekar 1 telah melakukan rangkaian pelatihan, pendampingan, dan business matching yang intensif serta kemudahan akses lainnya seperti legalitas, pembiayaan, pasar dan rantai pasok,” ujar Riza.
Ia menambahkan, keterlibatan UMKM lokal di lingkungan Pondok Pesantren Al-Kasyaf terus mengalami peningkatan signifikan. Jika pada awal program hanya melibatkan sekitar 10 UMKM, kini jumlahnya melonjak menjadi 50 UMKM aktif.
“Melalui Ekosistem MBG, Yayasan Al Kashaf telah menunjukkan perkembangan pesat dalam mengintegrasikan ekosistem UMKM dengan program ini. Saat ini ada 50 UMKM yang terlibat, masing-masing melibatkan tenaga kerja lokal, yang menunjukkan dampak positif pada ekonomi lokal,” ungkapnya.
Selain revitalisasi dapur, Kementerian UMKM juga meluncurkan Program FUSION, hasil kolaborasi strategis bersama Regional Trade for Development (RT4D-RCEP), dengan dukungan Pemerintah Australia dan Selandia Baru. Program ini bertujuan memperkuat integrasi UMKM dalam rantai pasok pangan di Jawa Barat, khususnya dalam ekosistem MBG.
Menurut Riza, FUSION dirancang untuk memperkuat model pemberdayaan UMKM yang sudah berjalan melalui pendampingan intensif yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Program ini mengusung pendekatan GEDSI (Gender Equality, Disability, Social Inclusion) yang melibatkan perempuan, penyandang disabilitas, serta penerapan konsep green business.
“Saya percaya program ini akan semakin memperkuat posisi UMKM dalam ekosistem MBG, tidak hanya di hulu tapi juga sampai hilir dengan pengolahan limbah makanan,” katanya.
Riza juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, serta seluruh kolaborator yang berkomitmen menjaga kualitas produk dalam ekosistem MBG.
Berdasarkan data BGN tahun 2026, terdapat 38.938 UMKM yang terlibat dalam program MBG. Bahkan, sekitar 80 persen kebutuhan bahan baku dalam program tersebut diperuntukkan bagi UMKM.
Baca juga: Wamendag Roro Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Ekspansi Waralaba
Sebelumnya, Yayasan Al-Kasyaf juga telah terhubung dalam program Accelerating Capital Resources for Medium Enterprises (ACCES) yang digagas Kementerian UMKM. Program tersebut memberikan pendampingan hingga realisasi pembiayaan yang digunakan untuk renovasi Dapur 1 dan pembukaan Dapur 2, mulai dari penyusunan administrasi, analisis pembiayaan, hingga koneksi ke lembaga keuangan.
Melalui langkah ini, Kementerian UMKM optimistis ekosistem MBG dapat menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional berbasis UMKM.


