Tangerang, 07 Januari 2026 – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat fondasi manajemen usaha industri kecil dan menengah (IKM) agar mampu tumbuh secara berkelanjutan dan adaptif menghadapi dinamika industri. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) dengan Business & Export Development Organization (BEDO) dalam penyelenggaraan Program Manajemen, Akselerasi, dan Transformasi (MANTRA) Bali.
Program MANTRA dirancang sebagai upaya konkret untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing IKM fesyen dan kriya melalui penerapan praktik manajemen yang bertanggung jawab dan kolaboratif. Program ini berbasis metode ILO-Sustaining Competitive and Responsible Enterprises (ILO-SCORE) yang menekankan perbaikan berkelanjutan, efisiensi kerja, serta hubungan industrial yang sehat.
Baca juga: Kemenperin Siapkan SDM Bersertifikat Untuk Industri Bambu Nasional
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan manajemen usaha merupakan kunci utama dalam mendorong transformasi dan keberlanjutan IKM nasional. Menurutnya, peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis produksi, tetapi juga pada tata kelola usaha yang tertata, efisien, dan berorientasi jangka panjang.
“Program MANTRA menjadi salah satu instrumen penting Kementerian Perindustrian dalam membangun kapasitas manajerial IKM. Dengan manajemen yang baik, pelaku usaha mampu mengelola sumber daya secara lebih efektif, meningkatkan kualitas kerja, serta memperkuat daya saing produk fesyen dan kriya nasional,” ujar Menperin dalam keterangannya, Selasa (6/1).
Program MANTRA Bali dilaksanakan pada 12 November hingga 12 Desember 2025 dengan rangkaian kegiatan yang komprehensif. Kegiatan tersebut meliputi sosialisasi dan kick-off program, kurasi peserta, pembelajaran di kelas, kunjungan industri, coaching langsung di lokasi usaha, hingga sesi presentasi akhir. Pendekatan ini membantu pelaku IKM mengidentifikasi permasalahan utama, menyusun rencana perbaikan, serta mengimplementasikan perubahan nyata di lingkungan kerja.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyampaikan bahwa pembenahan manajemen dan sistem kerja di tingkat usaha merupakan langkah awal untuk meningkatkan produktivitas IKM. Ia menilai Program MANTRA Bali sebagai contoh konkret transformasi cara kerja yang lebih efisien, disiplin, dan kolaboratif antara manajemen dan pekerja.
Sebanyak empat IKM terpilih mengikuti Program MANTRA Bali, yakni Geokraft (Kota Denpasar), Amod Bali dan Jaya Dewata (Kabupaten Gianyar), serta TB Shop (Kabupaten Badung). Masing-masing peserta melakukan perbaikan bertahap sesuai kondisi awal usaha. Geokraft, misalnya, memperkuat pengendalian produksi melalui papan monitoring order dan penataan arsip pola. Sementara itu, Amod Bali membangun sistem pemantauan progres produksi berbasis timeline yang transparan.
Baca juga: UMKM Tangerang Selatan Dapat Pendampingan Laporan Keuangan Dari PKN STAN
Jaya Dewata mulai menerapkan aspek keselamatan dan keteraturan kerja dengan menyediakan sarana P3K serta pelabelan bahan baku. Adapun TB Shop melakukan penataan dan pelabelan area kerja untuk memperjelas alur produksi dan memudahkan pengawasan.
Kepala BPIFK Dickie Sulistya Aprilyanto menambahkan bahwa Program MANTRA Bali tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga perubahan pola pikir dan budaya kerja. BPIFK berharap program ini dapat menjadi model pengembangan IKM fesyen dan kriya berbasis manajemen berkelanjutan yang mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, serta daya saing industri nasional.


